Cerita Tentang Pola Direktifitas Mikrofon Kondensor

Pola Direktivitas Mikrofon merupakan satu karakteristik sebuah mikrofon yang dikaji berdasarkan respon penerimaan gelombang suara yang datang dari berbagai arah.

Mengetahui pola tersebut, bermanfaat untuk anda yang suka dengan akustik dan perekaman suara dengan mikrofon.

Pada kesempatan yang pertama ini, saya akan bercerita mengenai penelitian saya dengan judul Pola Direktivitas Mikrofon jenis Kondensor.

Kesukaan pada musik mengantarkan saya menjadi seorang pemain musik.

Keingintahuan bagaimana proses recording hingga menjadi sebuah lagu yang enak didengarkan, membuat saya mempelajari banyak hal.

Termasuk juga tentang mikrofon yang berperan sebagai transduser (sensor) atau alat rekam suara. Timbul pertanyaan bagaimana agar bisa menhasilkan rekaman suara yang bagus dan halus.

Terlepas dari semua itu, untuk meraih gelar sarjana sain (S. si) yang sedang saya tempuh di Universitas Negeri Yogyakrata kala itu, diharuskan membuat sebuah karya ilmiah yang disebut Skripsi.

Dan saya sudah memiliki dosen faforit yang siap membimbing saja menjadikan kesukaan (hobi) saya menjadi sebuah karya ilmiah.

Alhamdulillah !

Dengan niat dan kemauan yang kuat Skripsi ini berhasil saya selesaikan, dengan bimbingan Bapak Agus Purwanto, M. Sc dan Bapak Sumarna, M. Si.

Dan sekarang melalui blog ini saya ingin ceritakan kepada anda, semoga dikemudian hari ada manfaat yang bisa anda dapatkan.

Oke.

Langsung saja, dimulai dari karakterisitik sebuah mkrofon ketika mendapatkan respon berupa gelombang suara dengan frekuensi tertentu, memiliki perbedaan yang apabila digambarkan akan membentuk sebuah pola yang indah.

Inilah yang disebut dengan Pola Direktivitas Mikrofon. Atau dalam bahasa asing biasa disebut dengan Microphone Directivity atau juga Polar Patren Of Microphone.

Untuk mendapatkan respon suara, secara otomatis saya membutuhkan sebuah sumber suara, dalam hal ini saya gunakan loudspeaker sebagai sumber suaranya.

Karena keterbatasan frekuensi yang dihasilkan, sehingga saya gunakan 3 buah loudspeaker untuk mewakili range frekuensi rendah, sedang dan juga frekuensi tinggi.

Jadi saya gunakan speaker jenis Wover, Mindrange, dan twiter.

Kemudian untuk membentuk Pola Direktivitas Mikrofon tentu juga dibutuhkan sebuah mikrofon itu sendiri.

Ada berbagai macam jenis – jenis mikrofon di pasaran, namun atas saran dosen, saya gunakan mikrofon jenis kondensor standar dengan harga yang cukup murah.

Mikrofon tersebut saya taruh di atas statif yang saya buat sendiri dari kayu, yang bagian bawahnya (alas) sudah saya lengkapi dengan busur derajat, sedemikian rupa sehingga statif dapat diputar membentuk sudut tertentu terhadap arah datangnya suara.

Sehingga loudspeaker saya buat permanen sedangkan mikrofon atau microphone tersebut yang saya rubah arahnya dengan memutar statif yang telah dilengkapi dengan busur derajat.

Anda bisa lihat gambar ilustrasinya dibawah ini :

pola direktivitas mikrofon

Perangkat atau instrument yang saya gunakan dalam penelitian Pola Direktivitas Mikrofon ini tidak hanya mic condensor dan loudspeaker saja.

Melainkan terdapat alat lainnya yaitu 1 unit komputer PC, 1 buah Amplifier dan juga 1 unit AFG (Audio Frekuensi Generator).

Berikut skema gambar rangkaian instrument penelitian yang saya lakukan :

pola direktivitas mikrofon

Proses Pengambilan Data

Sebuah software audio recording dan editing saya gunakan untuk mengambil dan mengolah data penelitian ini.

Proses recording dalam penelitian ini saya menggunakan software Adobe Audition yang memiliki fitur multi track recording sehingga mempermudah saya dalam proses perrekaman.

Dan satu software audio editing lagi yaitu Sound Forge 6.0 untuk analisa datanya. Proses pencatatan data dan pembuatan chart (polar) dilakukan dengan Microsoft Excel.

Berikut ini saya tuliskan detail prses rekam data sehingga menghasilkan satu buah data, kemudian diolah dan menghasilkan sebuah gambar atau polar patren.

Perlu diketahui, saya merekam gelombang suara sinus murni dalam 4 rentang frekuensi yang dihasilkan dari AFG, pada intensitas suara yang sama.

  1. Memasang loudspeaker pada posisinya untuk merekam sura dengan frekuensi rendah (500 Hz)
  2. Membunyikan AFG dengan intentitas yang diatur dengan Amplifier
  3. Merekam suara pada (0◦) selama satu detik
  4. Merubah posisi mikrofon dengan memutar statif sehingga sudut menjadi (10◦), kemudian merekamnya lagi selama satu detik
  5. Begitu seterusnya hingga selesai (360◦)
  6. Kemudian, diteruskan dengan Midlerange Speaker pada frekuensi sedang dan twiter pada frekuensi tinggi dengan pola pengambilan data yang sama

Analisa Data

Dari proses pengambilan dara Pola Direktivitas Mikrofon diatas, saya mendapatkan sebuah data audio dengan format WAV dalam 4 folder frekuensi.

Masing-masing folder berisi 36 file audio.

Proses analisa dilakukan dengan mengukur intensitas gelombang suara tersebut dengan menggunakan software Sound Forge 6.0 dan mencatat hasilnya pada tabel di Microsoft Excel.

Ini slah satu contoh data hasil penelitian pada frekuensi 500 Hz

pola direktivitas mikrofon

Tabel Hasil Penelitian Pola Direktifitas Mikrofon Pada Frekuensi 500 HZ

Dari tabel tersebut kita bisa melihat bahwa yang diteliti adalah berupa respon daya tangkap suara mikrofon pada satu jarak tertentu dari sumber suara namun pada sudut arah (direction) yang berbeda

Hasil Penelitian

Penelitian Pola Direktivitas Mikrofon (Microphone) menghasilkan sebuah gambar pola yang memiliki karakteristik tertentu pada masing – masing frekuensi yang dihasilkan oleh sumber suara.

1. Frekuensi 500 Hz

Pola direktivitas Mikrofon yang dihasilkan pada frekuensi rendah atau kita wakilkan pada frekuensi 500 Hz adalah berupa lingkaran penuh.

Dengan kata lain, respon suara yang ditangkap oleh mikrofon pada frekuensi ini adalah sama pada setiap sudutnya.

pola direktivitas mikrofon 500 hz

2. Frekuensi 5000 Hz

Frekuensi 5000 Hz diambil untuk mewakili frekuensi sedang.

Hasil polar Parern atau Pola Direktivitas Microphone terlihat mulai memberikan tanda-tanda perbedaan di beberapa sisi.

Namun demikian, masih bisa kita katakan responnya hampir sama tapi menuju satu pola tertentu.

pola direktivitas mikrofon frekuensi 5000 Hz

3. Frekuensi 10.000 Hz

Berbeda ketika di frekuensi 10.000 Hz.

pola yang dihasilkan sudah mulai membentuk satu karakteristik tertentu.

Dimna respon Intensitas suara dibagian belakang lebih rendah dibandingkan dengan bagian depan (front).

pola direktivitas mikrofon frekuensi 10000 Hz

4. Frekuensi 20.000 Hz

Pada frekuensi ini Pola Direktivitas Mikrofon kondensor yang saya teliti bisa dikatakan directive.

Atau memiliki satu pola tertentu dimana respon bagian belakang jauh berbeda dengan respon pada bagian depannya.

pola direktivitas mikrofon frekuensi 20000 Hz

Kesimpulan Penelitian

Penelitian ini berakhir dengan kesimpulan yang sebenarnya belum memuaskan saya.

Di sini saya hanya berhasil menunjukkan kepada audience bahwa sebuah mikrofon atau microphone memiliki pola tertentu dalam menangkap suara dari berbagai posisi pada frekuensi yang berbeda.

Sehingga hal ini dapat bermanfaat ketika melakukan perekaman suara dengan frekuensi tinggi, posisi mikrofon haruslah tepat menghadap pada sumber suara untuk mendapatkan hasil yang optimal.

Namun jika pada frekuensi rendah, anda boleh menghadapkan posisi mikrophone ke segala arah.

Rahasia yang belum terkuak dalam penelitian ini adalah mengapa respon intensitas tersebut berbeda terhadap frekuensi yang berbeda ?

Apa kaitan frekuensi dengan dengan posisi mikrofon menghadap dan juga intentitas yang diterima.

Mungkin, pertanyaan saya ini akan dapat dikembangkan oleh generasi berikutnya yang suka dengan akustik khususnya Microphone dan sejenisnya.

Semoga tulisan tentang penelitian saya Pola Direktivitas Mikrofon dapat bermanfaat dan menginspirasi anda untuk membuat sebuah karya yang lebih fantastis.

Banyumas 10 Juni 2018
Nur Baehaqi

Leave a Reply